Mengenal Kebudayaan Khas Yang Berkembang di Probolinggo

Probolinggo merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang terletak sekitar 100 Km sebelah tenggara dari Surabaya. Sebagian besar orang mengenal kota ini sebagai kota singgah dalam perjalanan pariwisata menuju Gunung Bromo.

Namun, Probolinggo ternyata menyimpan segudang  potensi yang seharusnya tak diabaikan begitu saja. Mungkin masih banyak yang belum tahu, Probolinggo merupakan kota penghasil buah mangga dan anggur terbaik di Jawa Timur sehingga tak salah jika Probolinggo mendapat julukan Kota Mangga dan Kota Anggur. Mangga yang menjadi ciri khas kota ini adalah mangga manalagi yang memiliki rasa manis dan lezat hingga disukai banyak orang. Tak hanya itu, Probolinggo juga menawarkan kuliner khas asli daerah baik yang berupa makanan seperti nasi glepungan dan soto krasakan maupun camilan seperti kerupuk ikan tengiri yang semuanya bisa memanjakan lidah Anda.

Memiliki letak geografis yang berada dekat dengan Selat Madura, Probolinggo mempunyai pelabuhan yang cukup besar dan biasa dijadikan tempat transit yang menghubungkan dengan kota-kota lain seperti Banyuwangi, Jember, Lumajang, Situbondo, dll.

Probolinggo juga mempunyai kebudayaan khas Probolinggo yang menarik untuk dieksplor. Seperti apa sih ragam budaya yang dimiliki kota Probolinggo? Berikut sedikit ulasan tentang kebudayaan khas Probolinggo yang dimiliki kota Mangga dan Anggur ini.

Membahas kebudayaan khas Probolinggo yang dimiliki suatu daerah tak kalah menariknya dengan ulasan tentang kuliner maupun obyek wisatanya bukan? Seperti kebudayaan khas Probolinggo ini. Kota yang memiliki jumlah penduduk terbesar ke empat di Jatim setelah Surabaya, Malang dan Kediri ini menawarkan bermacam kebudayaan khas Probolinggo yang patut diperkenalkan masayarakat luas seperti Tari Glipang,  Perahu Hias, Petik Laut, Ludruk dan lain sebagainya. Untuk lebih jelasnya, kita bahas satu persatu kebudayaan khas Probolinggo ini ya…

Tari Glipang

Kebudayaan Tari Glipang sudah cukup lama dikenal oleh masyarakat Probolinggo. Tarian tradisonal ini lahir di desa Pendil, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo dan terbentuk karena adanya perpaduan budaya Islam dan Jawa.

Tarian ini menggambarkan kehidupan masyarakat sehari-hari. Pada awalnya, tarian ini dikenal dengan sebutan “Gholiban” yang berasal dari bahasa Arab yang artinya kebiasaan.

Tari Glipang dilakukan secara berkelompok antara perempuan dan laki-laki. Selain sarat akan makna, gerakan tari Glipang juga memasukkan unsure-unsur silat di dalamnya sehingga memancarkan kesan lugas dan juga menghibur.

Dalam pertunjukannya, Tari Glipang dibagi dalam tiga sesi yaitu Tari Olah Keprajuritan atau Tari Kiprah Glipang sebagai pembuka pertunjukan yang berisi sindiran dan perlawanan kepada penjajah pada jaman dulu kemudian dilanjutkan dengan Tari Papakan yang menggambarkan tentang legenda percintaan Dhamarwulan yang dipentaskan oleh penari wanita dan pria.

Pertunjukan ke tiga adalah tari baris yang dilakukan penari pria yang menggambarkan tentang para prajurit Majapahit.

Kebudayaan seni tari tak akan menarik tanpa adanya pengiring. Begitu juga dengan Tari Glipang ini. Musik pengiring yang digunakan dikenal dengan nama musik glipang, yaitu alat musik yang terdiri dari Jedhor, ketipung besar, krecek dan terbangan.

Ada pula vokal yang menyanyikan lagu pengiring. Tarian Glipang hingga kini masih terus dilestarikan dan sering ditampilkan dalam berbagai acara diantaranya resepsi, bersih desa dan hajatan. Kebudayaan tari Glipang ini juga sering ditampilkan pada acara penyambutan tamu besar dan festival budaya.

Perahu Hias

Salah satu tradisi unik yang dimiliki Probolinggo sebagai kota pesisir adalah lomba perahu hias. Peserta belomba menghias kapal atau perahu dengan berbagai macam hiasan yang menarik untuk memenangkan lomba.

Perayaan lomba ini digelar setiap 4 September yang bertepatan dengan hari jadi kota Probolinggo. Tak hanya itu saja, masyarakat Probolinggo terutama yang bermukim di Pulau Gili Ketapang memiliki tradisi unik mengantar jamaah haji yang akan berangkat ke Tanah Suci dengan iring-iringan perahu hias.

Tradisi ‘ngater kajien’ warga Gili ini sudah menjadi tradisi warga secara turun temurun.

Petik Laut

Kebudayaan atau tradisi petik laut juga sudah berkembang lama di kalangan masyarakat Probolinggo. Tradisi ini bertujuan untuk menyambut datangnya bulan puasa dengan mengadakan lomba balap perahu (petik laut ) yang dilaksanakan setiap tanggal 15 di Bulan Sya’ban (15 hari menjelang Ramadhan).

Saat petik laut, masyarakat berbondong-bondong datang ke laut dengan membawa makanan dan kemudian duduk di tepi laut menyaksikan lomba yang diselenggarakan.

Tradisi petik laut ini rutin digelar setiap tahun oleh pemerintah Probolinggo dengan tujuan untuk melestarikan kebudayaan gotong royong dan kebersamaan  masyarakat di sepanjang pesisir pantai kota Probolinggo.

Ludruk

Kesenian tradisional yang satu ini tumbuh dan berkembang hampir di seluruh wilayah Jawa Timur, tak terkecuali di Probolinggo.

Ludruk merupakan suatu bentuk pementasan drama kehidupan yang disajikan dengan pendekatan kehidupan sehari-hari.

Tampilan kebudayaan ludruk khas Probolinggo memiliki perbedaan dengan ludruk dari daerah yang lain, yaitu dari segi bahasa yang digunakan.

Ludruk Probolinggo menggunakan bahasa Jawa Ngoko yang dicampur dengan Bahasa Madura Pesisiran, baik dalam bentuk kidungan maupun dialog para pemainnya.

Cukup menarik bukan menganal kebudayaan khas Probolinggo yang berkembang di kota Probolinggo ini? Tak ada salahnya jika Anda memasukkan Probolinggo sebagai salah satu kota yang akan Anda kunjungi untuk mengisi liburan bersama keluarga.  (Jari Adventure-det)

 

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.