Grebeg Gethuk, Lestarikan Kuliner Magelang

Grebeg Gethuk  – Mengagumi karya seni tinggi yang dimiliki Candi Borobudur pasti tak akan ada puasnya. Candi Buddha terbesar di dunia ini begitu memukau dengan arsitekturnya yang berbentuk punden berundak atau piramida bertingkat serta relief yang menempel di dinding dan juga arca buddha yang dimilikinya.

Di kawasan wisata Candi Borobudur, Anda juga bisa mencoba aneka kuliner yang enak khas Magelang yang tentunya sayang sekali bila Anda lewatkan begitu saja. Nah, pas sekalian berada di Magelang, tak ada salahnya pula mengenal tradisi atau kebudayaan yang berkembang di kalangan masyarakat setempat. Salah satu tradisi yang masih lestari di Magelang adalah tradisi Grebeg Gethuk. Seperti apa tradisi Grebeg Gethuk ini hingga bisa menyedot perhatian massa? Yuk, kita ikuti ulasannya.

Apa itu Grebeg Gethuk?

Prosesi Grebeg Gethuk adalah sebuah tradisi unik masyarakat Magelang dan tidak dapat di temui di kota-kota lain. Terdapat beberapa hal menarik dalam pelaksanaan tradisi Grebeg Gethuk ini hingga mampu mengajak serta masyarakat untuk turut serta melestarikannya. Salah satunya adalah tradisi ini menghadirkan gunungan gethuk dimana gethuk sendiri merupakan makanan khas kota Magelang yang terbuat dari singkong.

Pemerintah kota Magelang rutin menggelar tradisi Grebeg Gethuk setiap tahunnya yang biasa dibarengkan dengan peringatan hari jadi Kota Magelang. Kumpulan gethuk yang digunakan dalam satu gunungan biasanya sesuai dengan jumlah usia Kota Magelang.

Dua Gunungan

Dalam tradisi Grebeg Gethuk biasanya terdapat dua gunungan. Gunungan pertama berbentuk lancip yang menjadi simbol dari jaler atau dalam bahasa Indonesia laki-laki dan gunungan kedua berbentuk bulat sebagai simbol setri atau perempuan. Tak hanya dua gunungan itu, tradisi Grebeg Gethuk juga menyajikan 17 gunungan lain yang melambangkan jumlah kelurahan yang ada di Kota Magelang. Ke 17 gunungan ini terbuat dari palawija, sayur mayur dan buah-buahan yang merupakan hasil warga setempat. Saat prosesi, gunungan-gunungan ini bakal diperebutkan warga.

Prosesi tradisi Grebeg Gethuk dimulai dengan arak-arakan rombongan Walikota Magelang beserta segenap jajarannya dengan menaiki kereta kencana dari Masjid Agung Kota Magelang menuju Panggung kehormata yang berlokasi di sisi selatan Alun-alun Kota Magelang. Pada prosesi ini semua peserta arak-arakan mengenakan pakaian adat Jawa. Tak hanya iring-iringan manusia, gunungan gethuk dan gunungan hasil bumi pun diarak.

Prosesi pembukaan Grebeg Gethuk

Setelah semua proses kirab selesai baru kemudian upacara pembukaan tradisi Grebeg Gethuk digelar. Dalam upacara ini, semua petugas upacara juga memakai baju adat Jawa. Uniknya, pembawa upacara hingga aba-aba dalam upacara tersebut semua menggunakan bahasa Jawa.

Suguhan adat Jawa yang kental juga terlihat sebelum prosesi upacara pembukaan Grebeg Gethuk dimulai. Biasanya, acara akan dibuka dengan penampilan Tari Rampak Buto, Pandhita dan 9 penari sesaji. Tarian ini mengisahkan tentang peperangan antara Pandhita dan Buto-buto.

Baca Juga: Ngarsopuro Night Market, Tempat Favorit Habiskan Malam Minggu di Solo

Dalam peperangan, Pandhita akhirnya berhasil mengalahkan Buto-buto yang memiliki niat jahat. Selain itu, ada beberapa tarian lain yang disuguhkan kepada warga, salah satunya adalah tarian Ngerembakane Budoyo. Tarian kolosal tradisional ini dipentaskan oleh lebih dari 100 penari yang mengkolaborasikan empat macam tarian yaitu Tari Kunthulan, Tari Jaranan, Tari Gendewo dan tarian rakyat.

Usai pementasan tari-tarian tradisonal, upacara pembukaan prosesi sakral Grebeg Gethuk pun dimulai dan setelah walikota memberikan aba-aba gunungan-gunungan itupun segera diserbu warga.

Acara tradisi Grebeg Gethuk dilanjutkan dengan kirab atau karnaval di seputaran alun-alun Kota Magelang dan jalan-jalan protokol kota Magelang.

Tujuan Grebeg Gethuk

Tujuan prosesi pelaksanaan tradisi Grebeg Gethuk ini adalah untuk ngauri-uri atau melestarikan Budaya Jawa. Tentu saja budaya kota Magelang sendiri. Tradisi Grebeg Gethuk ini juga menunjukkan nilai tradisonal yang kental. Yaitu dengan penggunaan gethuk yang merupakan makanan khas kota Magelang yang terbuat dari singkong.  Selain itu, ada juga pertunjukan tarian daerah, penggunaan pakaian adat oleh para peserta prosesi  dan juga pemakaian bahasa Jawa selama prosesi berlangsung.

Cukup menarik bukan mengikuti tradisi Grebeg Gethuk di kota Magelang ini. Bila Anda benar-benar ingin menyaksikannya secara langsung Anda bisa datang ke Magelang sekitar April karena hari jadi Kota Magelang adalah 11 April. Tak hanya tradisi Grebeg Gethuk saja, biasanya setiap memperingati hari jadinya Kota Magelang juga menggelar berbagai acara menarik yang sarat akan budaya Jawa, misalnya saja pertunjukan wayang kulit, pentas kesenian tradisional, dan kirab budaya.  (Jari adventure-det)

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.