4 Atraksi Budaya Perang Ksatria Suku – Suku di Indonesia

Budaya Perang Ksatria Suku – Indonesia merupakan negara majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan tradisi. Oleh karena itu, tidak terlalu sulit untuk menyaksikan berbagai atraksi budaya daerah dari suku – suku yang ada di seluruh tanah air.

Bahkan, beberapa tradisi budaya suku ini masih dipertahankan dan dilestarikan hingga kini. Sebagai aset daerah maupun potensi pariwisata nasional.

Suku – suku di Indonesia seringkali terbagi menjadi beberapa struktur atau kasta golongan. Dimulai dari ketua suku atau kepala suku, pemuka adat atau pemuka agama, ksatria serta golongan rakyat biasa. Suku – suku tersebut berusaha untuk mempertahankan diri dari serangan musuh atau suku lain dengan berbagai cara. Selain memiliki kemampuan bela diri, memanah, berkuda, bermain tombak dan pedang, ksatria suku ini juga rela mengorbankan jiwa dan raga untuk mempertahankan keberadaan sukunya.

Berikut 4 atraksi mempertahankan kehormatan suku oleh para ksatria yang menjadi daya tarik potensi wisata suku – suku di Indonesia:

Sigajang Laleng Lipa Suku Bugis di Sulawesi

Suku Bugis yang terkenal akan keberaniannya mengarungi samudera rupanya juga bisa dilihat dari kemampuan dan keberanian bertarung di arena. Apabila ada saudara atau antar anggota suku masyarakat Bugis berbeda pendapat dan tidak bisa diselesaikan dengan musyawarah. Maka akan digelar tradisi Sigajang Laleng Lipa.

Tradisi ini ini biasanya mempertandingkan ksatria di antara suku yang berselisih untuk beradu keahlian perang, baik memakai senjata tajam ataupun adu fisik.

Perang Pandan Suku Tenganan di Bali

Suku di Bali juga beragam, tak jarang setiap desa memiliki ksatria masing – masing untuk melindungi dan menjaga keamanan desa. Karena kepentingan masing – masing inilah tak jarang timbul perselisihan yang harus diselesaikan dengan tradisi perang pandan.

Berbeda dengan perang pada umumnya, perang pandan atau mekere- kere merupakan acara tahunan yang diselenggarakan di desa Tenganan, Bali. Setiap bulan ke-5 penanggalan tradisi Bali, 2 orang pemuda yang mewakili ksatria masing – masing desa akan beradu fisik dan kekuatan. Mereka akan dibekali senjata berupa daun pandan berduri serta tameng dari anyaman bambu sebagai pelindung kepala.

Baca juga: Maraknya Festival Sekaten di Yogyakarta

Tata cara perang pandan atau mekere – kere yaitu daun pandan berduri akan dipukul – pukulkan kepada bagian tubuh lawan atau digosok – gosokkan di bagian punggung lawan. Otomatis keduanya akan bergulat dan saling mengunci satu sama lain. Apabila pihak lawan tidak bisa menahan rasa sakit dan menyerah, maka ia akan dianggap kalah.

Tradisi perang pandan ini adalah sebuah simbol tata cara umat Hindu menghormati dewa Indra yang menjadi dewa perang. Darah yang menetes saat para peserta perang pandan cedera dianggap sebagai simbol persembahan dan pengorbanan bagi sang dewa.

Pasola Suku Sumba dari Sumbawa

Termasuk dalam kategori Pesona Indonesia, tradisi Pasola di Sumbawa cukup banyak menarik wisatawan dari manca negara untuk datang ke Tanah Sumba setiap tahun.

Tradisi unik ini adalah pertarungan para ksatria di atas kuda khas Sumbawa yang tinggi dan gagah. Para ksatria yang kebanyakan pemuda – pemuda desa akan beradu kekuatan dan stamina dengan melemparkan tombak atau lembing.

Sembari menunggangi kuda, kemudian lembing akan dilontarkan kepada lawan yang berada di depan mereka. Tidak hanya satu lawan satu, tradisi pasola juga terkadang dilakukan dalam bentuk grup atau berkelompok.

Bermain senjata tajam seperti lembing, sudah pasti akan ada yang cedera. Tetapi, mereka mengganggap luka atau darah yang menetes sebagai pertanda panen yang berlimpah. Jadi, semakin banyak yang luka atau cedera akan menandakan panen yang semakin bagus. Unik dan eksentrik, bukan?

Peresean Suku Sasak di Lombok

Tak mau ketinggalan dari suku lainnya di tanah air, Suku Sasak di Lombok juga memiliki budaya pertarungan ksatria yang cukup menarik.

Tradisi Peresean merupakan adu keahlian perang yang dipersiapkan suku Sasak pada puluhan tahun silam untuk menghadapi para penjajah Belanda.

Pemuda yang ada di desa – desa akan dilatih bertarung hingga titik darah penghabisan. Senjata yang digunakan oleh Suku Sasak hanya sebilah kayu panjang terbuat dari menjalin serta tameng.

Setelah Indonesia lepas dari cengkeraman penjajah, tradisi Peresean masih dipertahankan hingga kini sebagai atraksi budaya yang menarik potensi wisata dan dijadikan hiburan untuk menyambut tamu – tamu atau wisatawan yang datang ke Lombok.

Tata cara perang peresean dilakukan pertandingan hingga 5 ronde saja. Namun jika salah satu peserta sudah ada yang cedera atau luka terutama di bagian kepala, pertarungan selesai dan yang cedera dinyatakan kalah.

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.